A. Pengertian Lahan
Lahan pada hakekatnya meliputi kondisi lingkungan di mana tanah merupakan satu bagiannya. Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas flora, fauna dan manusia baik dimasa lalu maupun saat sekarang, seperti lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan konservasi tanah pada suatu lahan tertentu.
Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Menurut Yunianto dalam Khaeriyah (2008) lahan adalah :
Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Menurut Yunianto dalam Khaeriyah (2008) lahan adalah :
Suatu wilayah di permukaan bumi yang mempunyai sifat-sifat yang agak tetap atau pengulangan sifat-sifat dari biosfer secara vertikal di atas maupun di bawah wilayah tersebu termasuk atmosfer, tanah, geologi, geomorfologi, hidrologi, vegetasi dan binatang yang merupakan hasil aktivitas manusia di masa lampau maupun masa sekarang dan perluasan sifat-sifat tersebut mempunyai pengaruh terhadap panggunaan lahan oleh manusia di saat sekarang maupun masa yang akan datang.
Selanjutnya lahan dalam pengertian geografi oleh Ansari (2000) adalah :
Sumber daya alam yang memiliki unsur-unsur yaitu : tanah, iklim, geologi, hidrologi, tumbuhan, hewan, manusia, beserta berbagai bentuk budidayanya. Lahan berkaitan dengan ruang tanah di permukaan bumi yang memilki ciri karakteristik tersendiri.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pusat perhatian jika kita membahas tentang lahan adalah permukaan bumi secara horisontal dan dalam kajiannya di samping diperhatikan tanah juga kondisi lingkungan yang terkait seperti iklim, topografi, letak perhubungan dan sebagainya.
B. Karakteristik Lahan
Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. Dari beberapa pustaka menunjukkan bahwa penggunaan karakteristik lahan untuk keperluan evaluasi lahan bervariasi. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama, yaitu topografi, tanah dan iklim. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung dalam Rosmini, 2008).
Menurut Yunianto dan Worosuprodjo (1996 : 2) mendefinisikan karakteristik lahan adalah :
Karakteristik lahan adalah suatu parameter lahan yang dapat diukur atau diestimasi, misalnya kemiringan lereng, curah hujan, tekstur tanah dan sebagainya. Satuan pemetaan lahan dalam survei sumber daya lahan pada umumnya disertai dengan deskripsi karakteristik lahan.
Selanjutnya menurut (FAO : 1976) menjelaskan pengertian identifikasi karakteristik lahan dan kualitas lahan sebagai berikut :
“Karakteristik lahan adalah suatu sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi sedangkan kualitas lahan adalah suatu sifat kompleks dari lahan yang nyata perbedaannya dalam mempengaruhi tingkat kesesuaian lahan untuk suatu bentuk penggunaan tertentu.
Karakteristik lahan berbeda dengan kualitas lahan. Kualitas lahan yang berhubungan dengan tindakan pengelolaan dalam pertanian, produksi hewan dan ekstraksi. Selain itu karakteristik lahan pada umumnya tidak dipergunakan secara langsung dalam kegiatan evaluasi sumberdaya lahan seperti masalah yang timbul dari interaksi di antara karakteristik lahan, sedang kualitas lahan kadang – kadang dapat diukur atau diestimasi secara langsung meskipun biasanya diuraikan dalam suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih karakteristik lahan”.
Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik lahan adalah keadaan atau unsur – unsur lahan yang dapat diukur atau diperkirakan dan ikut mempengaruhi perilaku lahan, serta sifat – sifat lahan tersebut akan menentukan kualitas lahan.
Selain itu karakteristik lahan pada umumnya tidak dipergunakan secara langsung dalam kegiatan evaluasi sumberdaya lahan seperti masalah yang timbul dari interaksi di antara karakteristik lahan, sedang kualitas lahan kadang – kadang dapat diukur atau diestimasi secara langsung meskipun biasanya diuraikan dalam suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih karakteristik lahan”. Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik lahan adalah keadaan atau unsur – unsur lahan yang dapat diukur atau diperkirakan dan ikut mempengaruhi perilaku lahan, serta sifat – sifat lahan tersebut akan menentukan kualitas lahan.
C. Klasifikasi Kesesuain Lahan
Kesesuaian lahan merupakan bentuk penggambaran tingkat kecocoran sebidang tanah untuk penggunaan tertentu. Jelas kesesuian lahan suatu areal dapat saja berbeda tergantung pada tipe pengguanaan lahan yang sedang dipertimbangkan. Evaluasi kesesuian lahan mempertimbangkan kemungkinan penggunaan dan pembatasan faktor-faktor tersebut dan berusaha menerjemakan informasi-informasi yang cukup banyak dari lahan tersebut.
Menurut Sitorus (1985) kesesuaian lahan adalah “penggambaran tingkat kecocokan sebidang tanah untuk suatu penggunaan tertentu”. Selanjutnya dikemukakan oleh Yunianto (1990) bahwa kesesuaian lahan adalah “ keadaan tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu”.
Yunianto (1991) memberikan empat kerangka sistem klasifikasi kesesuain lahan yaitu :
a. Order : keadaan kesesuaian secara global
b. Klas : keadaan tingkat kesesuaian dalam order
c. Sub-klas : keadaan tingkatan dalam klas didasarkan pada jenis
pembatas atau macam perbaikan yang harus dijalankan
d. Unit : keadaan tingkatan sub-klas didasarkan pada sifat
tambahan yang berpengaruh dalam pengelolaanya.
Selanjutnay Karmono (1991) mengemukakan bahwa pada tingkat order dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Order S (sesuaian) : lahan yang termasuk order ini adalah lahan yang dapat sesuai digunakan secara berkesinambungan untuk suatu tujuan yang telah dipertimbangkan, tanpa ada sedikit resiko kerusakan sumber daya lainnya. Keuntungan dari hasil pengelolaan itu akan memuaskan setelah dikalkulasi dengan masukan yang diberikan.
b. Order N (tidak sesuai) : lahan yang termasuk dalam order ini mempunyai kesuliatan yang sedemikian rupa sehingga mencegah kegunaanya untuk satu tujuan yang direncanakan, lahan dapat digolongkan sebagai tidak sesuai untuk digunakan suatu usaha pertanian karena sebagai hambatan.
Karmono (1991) kedua tingkatan order di atas kemudian dibagi memjadi tiga klas order S dan dua klas dalam order N, yaitu sebagai berikut :
a. Klas S1 : Sangat sesuai (highly suitable) untuk jenis tanaman yang dimaksud.
b. Klas S2 : Cukup sesuai (moderately suitable) untuk jenis tanaman yang dimaksud dengan beberapa faktor pembahas yang agak serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan.
c. Klas S3 : hampir sesuai (marginally suitable) untuk jenis tanaman yang dimaksud dengan beberapa faktor pambahas yang serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan.
d. Klas N1 : tidak sesuai pada saat ini (currently not suitable) karena faktor pembahas yang lebih serius sekali, tetapi masih mungkin diatasi diperlukan usaha perbaikan yang sangat besar sehinnga tidak ekonomis.
e. Kelas N2 : tidak sesuai untuk selamanya (permanently not suitable) lahan mempunyai pembatas permanen untuk mencegah segala kemngkinan penggunaan keberlangsungan pada lahan tersebut.
D. Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan penghubung antara berbagai aspek dan kualitas biologi dan teknologi penggunaan lahan dengan tujuan sosial ekonominya. Evaluasi lahan bertujuan untuk mengetahui potensi atau nilai dari suatu areal untuk penggunaan tertentu yang memberikan harapan positif. Evaluasi lahan menurut Brinkman dan Smyth (1973) adalah :
Proses penelaahan interpretasi data dasar tanah, vegetasi, iklim, dan komponen tanah lainnya agar dapat mengidentifikasi dan membuat perbandingan pertama antara berbagai alternatif penggunaan lahan dalam konteks sosial-ekonomi yang sederhana.
Untuk keperluan evaluasi lahan, sifat sifat lingkungan fisik atau wilayah dirinci kedalam kualitas lahan dan karakteristik lahan. Kualitas lahan menurut Djaenuddin (1993) adalah “sifat-sifat atau atribut yang kompleks dari suatu wilayah”. Selanjutnya Djaenuddin (1993) mengemukakan bahwa “karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau dietimasi, seperti kemiringan lereng, kedalaman efektif dan sebagainya”. Kualitas lahan dan karakteristik lahan seperti yang dikemukakan diatas dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kulaitas Lahan dan Karakteristik Lahan yang Digunakan Dalam Evaluasi Lahan.
Simbol | Kualitas Lahan | Karakteristik Lahan |
t | Rejim temperatur | Temperatur rata-rata tahunan (00) |
w | Ketersedian air | 1. Bulan kering (>75 mm) 2. Curah hujan rata-rata tahunan (mm) |
r | Media perakaran | 1. Kelas drainase tanah 2. Tekstur tanah 3. Kedalaman efektif |
f | Retensi hara | 1. KTK 2. pH |
n | Ketersedian hara | 1. Total nitrogen 2. P2O5 tersedia |
x | Keracunan (toksitas) | Salinitas (mm hos/em) |
s | Terrain/potensi mekanisme | 1. Kemeringan lereng 2. Batu dipermukaan dalam penampang tanah 3. Singkapan batuan |
Sumber : Djaenuddin (1993 : 13)
Untuk keperluan evaluasi lahan, maka persyaratan tumbuh tanaman dijadikan dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuian lahan yang kemudian dicocokkan dengan kualiatas lahan dan krakteristik lahan (Djaenuddin, 1993).
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan kesesuain lahan tanaman kubis, yang diperhatikan adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kubis, lebih dapat dilihat pada pembahasan syarat tumbuhnya tumbuhan kubis.
E. Kesesuian Lahan Aktual
Kesesuain lahan aktual adalah kesesuain lahan saat ini yang merupakan kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan berdasarkan data yang ada tidak mempertimbangkan asumsi atau usaha perbaikan dalam tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi faktor-faktor pembatas yang ada disetiap satuan lahan.
Kesesuain lahan aktual atau kesesuain lahan saat ini oleh Djaenuddin (1993) adalah :
Kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan dari data yang ada belum mempertimbangkan asumsi atau usaha perbaikan dan tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala atau faktor pembatas setiap satuan peta.
Pendapat di atas menggambarkan bahwa kesesuai lahan aktual merupakan kesesuaian lahan berdasarkan data yang diperoleh tanpa asumsi atau usaha perbaikan terhadap faktor pembatas yang terjadi, walaupun faktor pembatas tersebut ada masih dapat diatasi atau perbaikan dan secara ekonomis masih menguntungkan dengan masukan dan teknologi yang tepat.
F. Syarat Tumbuh Kubis
Secara umum faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kubis adalah iklim yang meliputi : curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, angin dan intensitas radiasi matahari. Tanah meliputi : tekstur tanah, drainase tanah, kedalaman efektif tanah, kemiringan lereng dan ketinggian tempat (Cahyono, 2002).
a. Iklim
Iklim merupakan salah satu komponen ekosistem alam yang dapat mempengaruhi kehidupan makluk hidup. Istilah iklim seringkali disamakan dengan cuaca. Namun kenyataanya kedua istilah berbeda. Perbedaan tersebut seperti yang dikemukakan oleh Kartasapoetra dalam Khaeriyah (2008) bahwa :
Cuaca adalah keadaan udara/atmosfer pada suatu waktu tertentu yang sifatnya berubah-ubah setiap waktu atau dari waktu ke waktu. Sedangkan iklim adalah keadaan cuaca dalam jangka waktu yang lama, minimal 30 tahun yang sifatnya tetap.
Selanjutnya iklim menurut Lakitan (1997) adalah “ karakteristik cuaca pada suatu wilayah yang didasarkan atas data yang terkumpul selama kurun waktu yang lama yakni sekitar 30 tahun”.
Iklim dapat dipandang sebagai kebiasaan alam yang berlaku dan terjadi sebagai akibat dari pada unsur-unsur iklim. Unsur-unsur iklim tersebut meliputi: temperatur, kelembaban, awan, radiasi matahari, presipitasi, evaporasi, tekanan udara dan angin.
Dalam penelitian ini unsur-unsur iklim yang akan dibahas dibatasi pada unsur-unsur yang terpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kubis. Menurut Pracaya (2001) bahwa : faktor-faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kubis meliputi : curah hujan, temperatur (suhu), kelembaban, intensitas matahari dan angin”. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kubis akan dibahas lebih rinci sebagai berikut :
1) Curah hujan
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Besar kecilnya curah hujan akan berpengaruh langsung terhadap ketersedian air di dalam tanah serta kelembaban tanah. Ketidaksesuaian antara besarnya curah hujan dan uap air yang dibutuhkan tanaman akan menyebabkan mengakibatkan tanaman mati.
Penjelasan tersebut di atas menunjukkan pentingnya curah hujan tarhadap tanaman yang akan dikembangkan pada suatu lahan harus disesuaikan denagn curah hujan. Tanaman kubis membutuhkan curah hujan agar dapat tumbuh dengan baik. Menurut Cahyono (2002) bahwa:
Pada umumnya tanaman kubis memerlukan curah hujan yang cukup tinggi untuk dapat memberikan hasil yang baik. Kebutuhan air bagi tanaman kubis sangatlah beragam, yaitu berkisar antara 2000-3000 mm per tahun. Umumnya kubis membutuhkan air pada periode awal pertumbuhan dimana pertumbuhan vegetatif sangat dominan dan kebutuhan air akan meningkatkan lagi pada masa pembesaran kole (kepala kubis) dan pada periode permasalahan.
Selajutnya menurut Pracaya (2001) bahwa : ”Pertumbuhan kubis memerlukan air yang cukup, tetapi tidak boleh berlebihan. Artinya tanaman kubis akan mati bila kekurangan dan kelebihan air”.
2) Suhu Udara
Suhu udara dalam usaha pertanian mempunyai pengaruh terhadap aktivitas pertumbuhan tanaman, respirasi, fotosintesis, pembelahan sel, absorbsi air dan unsur hara serta transpirasi.
Secara umum menurut pangertian sehari-hari suhu udara diartikan panas dinginnya udara. Menurut Kartapoetra dalam Khaeriyah (2008) bahwa : ”suhu udara dikatakan sebagai derajat panas atau dingin udara yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer”.
Tanaman akan tumbuh dengan baik jika syarat suhunya sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Tanaman kubis juga menghendaki suhu tertentu agar dapat tumbuh dengan baik. Menurut Pracaya (2001) bahwa : ”kubis akan dengan baik bila ditanam di daerah berhawa dingin dengan temperatur optimum antara 150-200 C”. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Rukmana (1994) bahwa : ”Tanama kubis cocok ditanam di derah yang relatif lembah dan dingin dengan suhu berkisar antara 150-200C.
Selanjutnya Cahyono (2002) mengemukakan bahwa : “Rataan suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman kubis yang optimum adalah 170C dengan rataan suhu minimum 100C dan rataan suhu udara maksimum 240C.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa temperatur yang cocok untuk tanaman kubis berkisar antara 100C-240C.
3) Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah salah satu unsur iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kubis. Kelembaban udara menurut Kartasapoetra dalam Khaeriyah (2008) adalah “banyaknya kadar uap air yang ada diudara”. Kelembaban dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : ketinggian tempat, curah hujan dan jenis tanaman.
Menurut Pracaya (2001) bahwa : ”kelembaban yang baik untuk tanaman kubis berkisar antara 60%-90%. Hal ini seperti dikemukakan oleh Cahyono (2002) bahwa : “Rata-rata kelembaban udara untuk tanaman kubis dalam kisaran antara 60%-90%. Selanjutnya menurut Rukmana (1994) bahwa : “kelembaban yang diperlukan tanaman kubis antara 80%-90%”. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kelembaban yang cocok untuk tanaman kubis berkisar antara 60%-90%.
4) Intensitas Radiasi Matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tanaman dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan produk tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dalam bermacam-macam bentuk.
Setiap tanaman memerlukan intensitas cahaya yang berbeda, tergantung pada tingkatan stadia pertumbuhan. Menurut Cahyono (2002) bahwa :
Pada stadia perkecambahan, tanaman kubis memerlukan intensitas cahaya yang lemah sehingga memerlukan naungan dalam pembibitan.hal ini untuk mencegah cahaya matahari langsung yang dapat membahayakan bibit yang sedang tumbuh. Sedangkan pada stadia pertumbuhan (dewasa) diperlukan intensitas cahaya kuat, sehingga pada saat ditanam di kebun tanaman tidak memerlukan naungan atau penuduh untuk pertumbuhannya.
b. Tanah
Tanah dalam pengertian sehari-hari adalah lapisan atas kerak bumi sebagai tempat berpijak mahluk hidup sebagai media tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dan merupakan salah satu sumber daya yang potensial dalam berbagai segi kehidupan manusia. Menurut Hardjowigeno dalaam Rosmini (2008) tanah adalah :
Tanah adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison terdiri dari campuran media untuk tumbuhnya tanaman.
1) Tekstur Tanah
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya suatu tanah, teristimewa merupakan perbandingan relatif kasar, debu dan liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil. Tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah diantaranya jari-jari sambil dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakan oleh adanya butiran pasir, dan liat sebagai berikut :
1. Pasir - Rasa kasar sangat jelas
- Tidak melekat
- Tidak dapat dibentuk bola dan gunung
2. Pasir lempung - Rasa kasar agak jelas
- Sedikit sekali melekat
- Dapat dibentuk bola yang mudah sekali hancur
3. Lempung berpasir - Rasa kasar agak jelas
- Agak melekat
- Dapat dibentuk bola, mudah hancur
4. Lempung - Rasa tidak kasar dan tidak licin
- Agak melekat
- Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibuat gulungan dengan permukaan mengkilap
5. Lempung berdebu - Rasa licin
- Agak melekat
- Dapat dibuat bola agak teguh, dapat dibuat gulungan dengan permukaan melekat
6. Debu - Rasa licin sekali
- Agak melekat
- Dapat dibuat bola agak teguh, dan dapat digulung dengan permukaan melekat
7. Lempung berliat - Rasa agak licin
- Agak melekat
- Dapat dibuat bola agak teguh, dan dapat digulung dengan permukaan mengkilap
8. Lempung liat berdebu - Rasa halus agak licin
- Melekat
- Dapat dibuat bola agak teguh, gulungan mengkilap
9. Liat berpasir - Rasa halus, berat, tetapi terasa sedikit kasar
- Melekat
- Dapat dibuat bola agak teguh, mudah digulung
10. Liat debu - Rasa halus, berat agak licin
- Sangat melekat
- Dapat dibuat bola, teguh, mudah digulung
11. Debu - Rasa sanagt berat
- Sangat lekat
- Dapat dibentuk bola dengan baik mudah digulung. Sumber (Hardjowigono, 2003)
2) pH Tanah
Derajat keasaman (pH) = -Log (H), skala harga pH antara 0-14. pH berarti netral, lebih dari 7 berarti asam dan lebih besar dari 7 berarti basa. pH mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia, pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Pada pH <5, alkalinitas dapat mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif.
pH dapat diukur langsung di tempat pengambilan sampel dengan menggunakan alat pH meter atau kertas pH (kertas lekmus). Jika sampel air harus diambil, maka pengukuran harus dilakukan dalam waktu kurang lebih 2 jam setelah pengambilan sampel, karena nilai pH dapat berubah oleh adanya pengaruh udara. Nilai pH di laut pada umumnya diatas 7, dan kisaran pH yang layak untuk kehidupan biota perairan adalah 5-9, sedangkan untuk air minum adalah 6,5-9,2. pH < 6,5 dan > 9,2 akan dapat menyebabkan korosi pada pipa pipa air, dan dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang dapat mengganggu kesehatan. Ritung dalam Rosmini (2009).
3) Drainase
Menurut Hardjowigeno dalam Rosmini (2008) bahwa : “Drainase adalah mudah tidaknya tanah melepaskan air, baik melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan kedalam tanah”.
Ada beberapa faktor yang membantu dalam penentuan kondisi drainase tanah, diantaranya adalah tekstur tanah. Menurut Saranga (1998) bahwa :
Tanah lempung mempunyai drainase yang baik, dimana perembesan airnya sedang dan daya menahan air yang baik, sehingga jenis tanah ini paling dikehendaki dalam pertanian. Tanah liat mempunyai drainase yang kurang baik karena jenis tanah ini suka merembeskan air. Sedangkan tanah berpasir mempunyai draianase yang berlebihan, dimana perembesan airnya cepat dan daya menahan air kurang.
Selanjutnya menurut Cahyono (2002) bahwa :
Sistem drainase yang buruk dapat menyebabkan terhambatnya aktivitas jasad renik tanah dalam proses penguraian dalam tanah menjadi berkurang, yang berarti tanaman kekurangan zat-zat hara yang diperlukan. Di samping itu drainase yang kurang baik dapat meningkatkan pertumbuhan patogen yang merupakan sumber macam-macam penyakit dan akibat selanjutnya adalah memburuknya pertumbuhan tanaman sehingga akan menurunkan hasil baik kualitas maupun kuantitas tanaman kubis.
4) Kedalaman Efektif
Menurut Hardjowigeno dalam Rosmini (2008) bahwa “Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus oleh akar tanaman”. Kedalaman dapat ditentukan dengan cara mengamati penyebaran akar tanaman baik akar halus maupun akar kasar. Adapun klasifikasi kedalaman efektif tanah menurut Hardjowigeno dalam Rosmini (2008) yaitu :
- < 25 cm : sangat dangkal
- 25 – 50 cm : dangkal
- 50 – 90 cm : sedang
- > 90 cm : dalam
Menurut Cahyono (2002) bahwa :
Air yang dapat diserap oleh tanaman kubis biasanya 100% diperoleh dari lapisan tanah permukaan, karena kubis mempunyai sistem perakaran yang dangkal dan sangat ekstensif. Kedalaman perakaran tanaman kubis mencapai 20-30 cm dan jumlah atau kepadatan akar serabut semakin menurun dengan semakin masuk ke arah dalam (semakin dalam perakaran).
5) Ketinggian Tempat
Ketinggian lahan merupakan salah satu pertimbangan dalam proses pemilihan tanaman, karena topografi sangat berpengaruh terhadap aspek-aspek lain seperti curah hujan, kelembaban dan suhu udara. Ketinggian tempat yang cocok untuk pengembangan tanaman kubis sebagaimana dikemukakan oleh Cahyono (2002) bahwa :
Ketinggian tempat yang sesuai untuk pembudidayaan kubis agar tumbuh baik dan memberikan hasil yang tinggi adalah pada ketinggian kubis dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 1000-2000 m dari permukaan laut.
Selanjutnya Rukman (1995) mengemukakan bahwa :
Umumnya kubis dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi yakni 1000-2000 m dpl. Namun setelah ditemukan kultivar atau varietas yang tahan panas, tanaman kubis dapat diusahakan di dataran rendah antara 200-300 m dpl. Walaupun hasilnya tidak sebaik yang ditanam di dataran tinggi.
Berdasarkan pendapat di atas ketinggian yang cocok untuk tanaman kubis adalah 200- 2000 m dpl.
6) Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng merupakan faktor yang menentukan kesesuain lahan untuk penggunaan tertentu termasuk penggunaan lahan untuk tanaman kubis, karena kemiringan lereng berpengaruh terhadap erosi tanah, seperti dikemukakan oleh Arsyad (1989) bahwa : “makin suram suatu lereng, makin besar erosi yang disebabkan oleh aliran air dipertinggi”.
Pendapat di atas menggambarkan bahwa, pemanfaatan lahan dengan kemiringan yang besar akan menyebabkan terjadinya erosi yang besar pula, sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan khususnya kerusakan tanah. Menurut Cahyono (2002) bahwa “ keadaan topografi (kemiringan) tanah yang baik digunakan umtuk tanaman kubis adalah ada keadaan tanah yang datar, namun masih toleran terhadap keadaan tanah yang sedikit miring, tetapi tidak terlalu curam.
Berdasarkan pendapat di atas, maka secara umum disimpulkan karakteristik lahan untuk tanaman kubis.
Tabel 1. Karakteristik Lahan
Simbol | Kualitas Lahan | Karakteristik Lahan |
i | - Rejim radiasi | - Intensitas radiasi matahari |
t | - Rejim suhu | - Suhu rata-rata tahunan |
d | - Kelembaban suhu | - Tingkat curah hujan |
w | - Ketersedian air | - Kelembaban relatif |
r | - Media perakaran | - Tekstur tanah |
| | - Dranaise tanah |
| | - Kedalaman efektif tanah |
f | - Retensi hara | - pH tanah |
h | - Topografi | - Topografi |
s | - Potensi mekanisme | - Kemirngan lereng |
| | - Singkapan batuan |
Tabel 2. Kriteria Kelas Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Kubis
No | Karakteristik lahan | Kelas Kesesuaian Kelas | ||||
SI | S2 | S3 | NI | N2 | ||
1. | Rejim radiasi | | | | | |
| - Intensitas radiasi matahari | >70% | 50-70% | 40-50% | Td | < 40% |
2. | Rejim suhu | | | | | |
| - Suhu rata-rata tahunan | 100-240C | 80-100C 240-290C | 80-100C 240-290C | Td | < 60C > 290C |
4 | Ketersedian air | | | | | |
| - Tingkat curah hujan | 2000-3000 Mm | 3000-4000 Mm | 4000-5000 mm | Td | < 2000mm > 5000mm |
5. | - Media perakaran | | | | | |
| - Tekstur tanah | Sedang | Agak halus | Halus | Agak kasar | kasar |
| - Drainase tanah | Baik | Agak baik | Agak buruk | Buruk | Sangat buruk |
| - Kedalam efektif tanah | 20-30cm | 15-20 cm | 15-10 cm | Td | < 10 cm |
6. | - Retensi hara | | | | | |
| - pH tanah | 5,5-7 | 4,4-5,0 | 4,0-4,5 | 3,0-3,5 | < 3,0 |
7. | - Topografi | 200-2000 m | 2000-2300 m | | Td | >2500 m |
8. | - Potensi mekanisme | | | | | |
| - Kemiringan lereng | <2% | 2-15% | 15-40% | Td | >40% |
| - Singkapan batuan | <10% | 10-15% | 15-25% | 25-35% | >30% |
Sumber : Cahyono (2002), Pracaya (2001), Rukmana (1994)
Keterangan : Td = Tidak berlaku